Minggu, 20 Juli 2008

KEBANGKITAN NASIONAL

Melihat Kembali Sejarah Kebangkitan Nasional

Liputan6.com, Jakarta: Bagi banyak orang di Tanah Air, mungkin proklamasi kemerdekaan yang terlintas di benak bila berbicara tentang sejarah lahirnya bangsa Indonesia. Tetapi sebenarnya, sejarah kebangkitan dan perjuangan bangsa ini lebih panjang dan berliku.

Sejak 1602, negeri ini di bawah penjajahan Belanda. Perlawanan fisik bangsa ini tidak kunjung berhasil mematahkan Belanda. Sampai 100 tahun yang lalu, muncul gagasan baru di benak seorang dokter bernama Wahidin Sudirohusodo. Meski didikan Belanda, Dokter Wahidin punya visi besar memajukan bangsa lewat jalan yang sama sekali berbeda. Pergerakan pemuda terpelajar.

Ide yang dia bawa kepada para pemuda mahasiswa sekolah kedokteran Stovia di Batavia yang lalu mendirikan sebuah organisasi bernama Budi Utomo. Setelah mendirikan Budi Utomo, langkah selanjutnya yang diambil para pemuda mahasiswa Stovia adalah mengadakan kongres pada 1908 di tempat yang sekarang menjadi Sekolah Menengah Atas Negeri 11 Yogyakarta.

Yogyakarta dipilih karena latar belakang priyayi para pengurus dan anggota yang banyak mendapat dukungan keraton. Namun justru keterikatan tradisional macam inilah yang belakangan dianggap membuat Budi Utomo terlalu konservatif. Apapun kontroversi yang berkembang, harus diakui Budi Utomo berjasa menberikan inspirasi para pemuda saat itu untuk bangkit.

Kelompok pemuda yang lebih progresif sebagian keluar tapi sebagian lalu mendirikan bagian khusus kepemudaan yang disebut Trikoro Dharmo. Dan dari konteks itulah kemudian berdiri Jong Java. Dalam perkembangan berikutnya lalu berdiri Jong Sumatera, Jong Ambon, Jong Minahasa, Jong Batak dan lain-lian. Semangat kepemudaan itulah yang kemudian menyebar.

Walaupun awalnya terpisah, perjalanan sejarah lalu menunjukkan pemuda Indonesia bersatu. Sementara di jalur politik, pun muncul partai politik pertama negara ini Indische Partij di antaranya atas prakarsa Cipto Mangunkusumo salah satu pendiri Budi Utomo.




Upacara Hari Kebangkitan Nasional di Alun-Alun Wates


Upacara memperingati 100 Tahun Hari Kebangkitan Nasional tingkat Kabupaten Kulon Progo berlangsung Senin (19/5) di Alun-alun Wates.

Bertindak sebagai Inspektur Upacara Bupati Kulon Progo H.Toyo Santoso Dipo yang sekaligus membacakan amanat. Turut hadir Ketua DPRD, Drs. Kasdiyono, Muspida para Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkup Pemda Kulon Progo. Sementara peserta upacara terdiri TNI, POLRI, Dan Sat Radar, Brimob, PNS, Ormas Pemuda, dan Pelajar SD hingga SLTA. Berikut dokumentasi kegiatan tersebut oleh Kantor Humas Pemkab Kulon Progo. (Humas Kabupaten Kulon Progo http://www.kulonprogo.go.id/ filmon)



Pelajar SD mengikuti upacara 100 Tahun Harkitnas. (Humas Kab. Kulon Progo)



Pengibaran bendera oleh Paskibraka Kulon Progo. (Humas Kab. Kulon Progo)

Para pejabat di lingkungan Kabupaten Kulon Progo. (Humas Kab. Kulon Progo)


Bupati Kulon Progo H. Toyo Santoso Dipo membacakan amanat. (Humas Kab. Kulon Progo)


Aparatur di lingkungan Kab. Kulon Progo menyimak amanat yang dibacakan Bupati. (Humas Kab. Kulon Progo)



Khitanan Massal di Depkominfo

Sejak pagi, beberapa anak laki-laki dan orang tuanya terlihat menunggu giliran dikhitan di Ruang Serba Guna Depkominfo, Kamis (10/7).

Peserta khitanan massal menunggu giliran dikhitan. (Lida/Depkominfo)

Peserta khitanan massal sedang dikhitan. (Lida/Depkominfo)

Dokter sedang bersiap mengkhitan. (Lida/Depkominfo)

Dalam rangka memperingati 100 tahun hari kebangkitan nasional, Panitia Pelaksana Bidang Bakti Sosial menggelar khitanan massal dengan menggunakan sinar laser sebagai suatu rangkaian acara bakti sosial. Donor darah telah dilaksanakan bulan lalu dan akan tetap dilaksanakan di bulan-bulan berikutnya.

Dua orang anak peserta khitan berusia 10 dan 8 tahun dan keluarganya. (Lida/Depkominfo)

Beberapa anak menangis ketika proses khitanan berlangsung. Namun segera mereda setelah menerima bingkisan dari panitia, berupa sebuah sarung, satu stel baju koko, kopiah serta uang transport.

Peserta khitanan terdaftar 40 orang anak yang berusia empat sampai 10 tahun. Namun yang ikut dikhitan hanya 20 anak. Bagi peserta khitanan terdaftar yang belum hadir akan dikhitan di Rumah Sakit Tarakan, Jakarta Pusat pada hari Sabtu dan Minggu, 12, 13, 19, dan 20 Juli 2008 pukul 10.00 WIB dengan koordinasi dari panitia. Peserta khitanan tersebut merupakan anak-anak karyawan/wati Depkominfo dan mitra kerja seperti satuan pengamanan dan pramusaji. (Lida)



Tidak ada komentar: